
Ungkapan
alam takambang jadi guru sangat akrab di telinga orang Minang. Ungkapan itu tidak asing lagi yang dari mulai anak-anak sampai orang dewasa sangat akrab dengan ungkapan itu. Alam bagi orang minang bukan hanya sekedar tempat lahir dan tempat hidup akan tetapi lebih dari itu juga sebagai sarana pembelajaran diri yang merupakan sikap reaktif orang minang terhadap lingkungannya. Pembelajaran diri membuat orang perlu untuk memiliki pedoman dan aturan, yang oleh orang minang masih dipakai di dalam tata masyarakat. Pedoman hidup yang itu mereka namakan filsafat. Filsafat ialah teori yang mendasari alam fikiran manusia dalam hidup dan dalam melakukan kegiatan. Aturan Hidup mereka namakan Adat yaitu aturan yang disepakati masyarakat yang dijadikannya panduan dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari.
Ketika wilayah Minangkabau mulai dihuni manusia, Islam belum masuk. Agama belum ada. Nenek moyang orang Minangkabau berpikir. Hasil pemikirannya ialah karena alam selalu memberikan kehidupan kepada manusia, dari alam manusia bisa hidup dan dengan alam pula mereka berkembang. Dari pemikiran itulah lahir ungkapan alam takambang jadi guru. Alam takambang jadi guru kemudian dikenal sebagai falsafah hidup orang Minagkabau yang mereka sebut filsafat alam. Hal itu diungkapkan dalam pepatah:
Panakiak pisau sirawik,
ambiak galah batang lintabuang,
silodang ambiak kanyiru,
Satitiak jadikan lawik,
sakapa jadikan gunuang,
Alam takambang jadi guru
Pepatah adalah pahatan kata. Pahatan kata mengandung arti patokan hukum adat. Pepatah diungkapkan dalam satu kalimat singkat yang mengandung arti yang sangat luas dan makna yang sangat dalam. Pepatah itu bermakna setiap ucapan, tingkah laku, perbuatan dan tatapergaulan masyarakat Minangkabau.